LAW OF CONTIGUITY
Azas belajar Guthrie
yang utama adalah hukum kontiguiti Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang
disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh
gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel
hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar.
Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi
stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar
hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan
mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon
bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu
sesering mungkin diberi stimulus dan respon lebih kuat dan menetap. Guthrie
juga percaya bahwa hukuman (punishment) memgang peranan penting dalam proses
belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah
tingkah laku seseorang.
Menurut Guthrie hukuman
yang memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan
mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu :
a. Pengaruh hukuman
terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara
b. Dampak psikologis yang
buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum)
bila hukuman berlangsung lama
c. Hukuman yang mendorong
si terhukum untuk mencari cara lain ( meskipun salah dan buruk) agar ia
terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum
melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang
diperbuatnya.
Stimuli yang
dihasilkan oleh Gerakan
Meskipun Guthrie
menekankan keyakinannya pada hukum kotiguitas di sepanjang karirnya, dia
menganggap akan keliru jika kita menganggap asosiasi antara stimuli lingkungan
dengan perilaku nyata. Misalnya, kejadian dilingkungan dan responsnya terkadang
dipisahkan oleh satu interval waktu, dan karenanya sulit untuk menganggap
keduanya sebagai kejadian yang bersamaan.
Guthrie selanjutnya
mengatasi problem tersebut dengan mengemukakan adanya movement-product stimuli
(stimuli yang dihasilkan oleh gerakan) yakni disebabkan oleh gerakan tubuh.
Contohnya, ketika mendengar telepon berdering kita berdiri dan berjalan
mendekati pesawat telepon. Sebelum kita sampai kepesawat telepon, suara
deringan tersebut sudah tidak lagi bertindak sebagai stimulus. Kita tetap
bergerak karena ada stimuli dari gerakan kita sendiri menuju pesawat telepon.
Mengapa Praktik
Latihan Meningkatkan Performa?
Untuk menjawab
pertanyaan ini, Guthrie membedakan antara act (tindakan) dengan movement
(gerakan). Gerakan adalah kontraksi otot, tindakan terdiri dari berbagai macam
gerakan. Tindakan biasanya didefinisikan dalam apa-apa yang dicapainya, yakni
perubahan apa yang mereka lakukan dalam lingkungan. Sebagai contoh tindakan,
Guthrie menyebut misalnya mengetik surat, makan pagi, dll.
Adapun untuk belajar
tindakan membutuhkan praktik latihan. Belajar bertindak, yang berbeda dari
gerakan, jelas membutuhkan praktik sebab ia mengharuskan gerakan yang tepat
telah diasosiasikan dengan petunjuknya. Bahkan menurut Guthrie, tindakan
sederhana seperti memegang raket membutuhkan beberapa gerakan berbeda sesuai
jarak dan arah posisi subjek itu. Untuk itulah diperlukan sbuah latihan tidak
menjamin pada saat waktu, jarak, dan posisi yang berbeda tindakan itu masih
dapat dilakukan.
Sifat Penguatan
Apa yang menggantikan
kekuatan dalam teori Guthrie? Pada posin ini Guthrie menggunakan isu yang
dibalas Thorndike, ketika satu respons menimbulkan keadaan yang memuaskan, maka
selanjutnya terulangnya respons akan meningkat. Guthrie menganggap hukum efek
tidak dibutuhkan. Menurut Guthrie, reinformance (penguatan) hanyalah aransemen
mekanis, yang dianggap dapat dijelaskan dengan hukum belajarnya.
Guthrie menganggap,
penguatan mengubah kondisi yang mestimulasi, dan karenanya mencegah terjadinya
nonlearning. Misalnya, dalam kotak teka-teki, hal yang dilakukan hewan sebelum
menerima satu penguat adalah menggerakan satu tuas atau menarik cincin, yang
membuatnya bisa keluar dari kotak itu, dan seterusnya. Oleh karena itu, Guthrie
dan Hkrtong mengatan, menurut pendapat mereka tindakan yang dilakukan oleh
kucing itu menganggap itulah caranya membebaskan diri dari kotak. Oleh karena
itu, tidak memungkinkan adanya respons baru yang dihubungkan dengan kotak
tersebut.
Lupa
Menurut Guthrie, lupa
disebabkan oleh munculnya respons alternatif dalam satu pola stimulus. Setelah
pola stimulus menghasilkan respons alternatif, pola stimulus itu kemudian akan
cenderung menghasilkan respons baru. Jadi menurut Guthrie, lupa pasti
melibatkan proses belajar baru. Ini adalah bentuk retroactive inhibition
(hambatan retraktif) yang ekstrem, yakni fakta bahwa proses belajar lama
diintervensi oleh proses belajar baru.
Untuk menunjukan
hambatan retroaktif, contohnya : Seseorang yang belajar tugas A dan kemudian
belajar tugas B lalu diuji untuk tugas A. Satu orang lainnya belajar tugas A.
Secara umum akan ditemukan bahwa orang pertama mengingat tugas A lebih sedikit
ketimbang orang kedua. Jadi, tampak bahwa mempelajari hal baru (tugas B) telah
mencamppuri retensi dari apa yang dipelajari sebelumnya (tugas A). Guthrie
menerima bentuk hambatan retroaktif ekstrim ini. Pendapatnya adalah bahwa
setiap kali mempelajari hal yang baru, maka proses itu akan menghambat sesuatu
yang lama. Dengan kata lain, lupa disebabkan oleh intervensi. Tak da
intervensi, maka lupa tidak kan terjadi.
Cara Memutuskan
Kebiasaan
Kebiasaan dalam teori
Guthrie ini didefinisikann sebagai sebuah respon yang diasosiasikan dengan
bebrapa stimuli yang berbeda. Untuk menghentikan kebiasaan yan inappropriate
(tidak sesuai) maka kebiasaan itu perlu diputus. Untuk itu, perlu memutus pula
hubungan antara sosiasi dengan yang memunculkan stimuli. Dan respon. Ada tiga
metode yang ditawarkan oleh Guthrie untuk memutuskan kebiasaan yaitu metode
ambang pintu (threshold methode), metode yang kaku (fatigue methode), dan
metode respon tandingan (incompatable respons methode).
a. Ambang Batas
(threshold)
Mengenalkan stimuli dengan kekuatan yang lemah. Secara perlahan
meningkatkan kekuatan stimuli, tetapi menjaganya dibawah respons batas minimal.
Contoh: Memasang pelana kuda : mulai dengan selimut yang ringan ,
kemudian selimut yang lebih berat, baru kemudian pelana kuda.
b. Metode fatigue
(kelelahan)
" mengeluarkan " semua respons dalam menghadirkan stimuli.
Contoh: Melemparkan pelana diatas kuda dan menaiki kuda samapai kuda
meringkik, menendang, dan berusaha sekuat tenaga untuk melempar orang yang
menaikinya. (joki) : pelana dan joki menjadi stimulus untuk berjalan dan
berlari dengan tenang.
c. Metode
respons tandingan (incompatable Respons Methode)
Memasangkan stimulus (S1) yang menyebaabkan perilaku tidak sesuai
(inapropiate) dengan stimulus (S2) yang memunculkan respons-respons yang sesuai
(apropiate), perilaku yang sesuai diasosiasikan dengan stimulus (S2).
Contoh: Untuk menghentikan menghindar dan takut berlebihan, dengan
memasangkan ketakutan pada suatu objek ( seperti harimau mainan ) dengan sebuah
stimulus yang memunculkan perasaan hangat dan penuh kasih saying., seperti
gambar seorang ibu.
KRITIK
Ada beberapa kelemahan
pada teori Guthrie yang menjadi sorotan sekaligus sebagai kritikan dalam
menjelaskan berbagai prinsip dalam belajar (escape learning dan forgetting).
Guthrie melakukan pendekatan dengan prinsip yang sama sehingga psikolog lainnya
sulit menemukan posisi Guthrie dalam jajaran ahli psikolog.
Muller dan Schoenfeld
(1954) juga mengungkapkan bahwa Guthrie kurang menggunakan metodologi
eksperimen dalam banyak hal dengan menggunakan alasan/dalil yang ambigu, yakni
banyak mengandalkan hasil dari teori belajar tersebut, sehingga teori yang
dihasilkan tersebut sulit diaplikasikan dalam fakta pendidikan langsung.
Selain itu juga disampaikan oleh Moore
dan Stuard (1979) bahwa percobaan yang dilakukan Guthrie masih diragukan karena
menggunakan hewan yakni kucing piaraan dan kucing hias dan lebih menunjukan
fakta insting dari hewan tersebut. Jadi Guthrie masih memiliki beberapa
kelemahan yang cukup mendasar dalam berbagai penelitiannya. Sedangkan hasil
penelitiannya dengan Horton tentang kucing perlu dikembangkan untuk dikaji
kembali, dengan menerapkan teori tersebut pada hewan-hewan selain kucing.
Hukum belajar yang
dikemukakan oleh Guthrie adalah hukum kontiguitas (law of contiguity). Gutrie
menganggap, penguatan mengubah kondisi yang menstimulasi, dan karenanya
mencegah terjadinya nonlearning. Hukuman berhasil mengubah perilaku yang tidak
diinginkan karena hukuman menimbulkan perilaku yang tidak kompitabel dengan
perilaku yang dihukum. Hukuman akan gagal jika perilaku yang disebabkan oleh
hukuman selaras dengan perilaku yang dihukum. Seperti halnya Thorndike, Guthrie
menyarankan proses pendidikan dimulai dengan menyatakan tujuan, yakni
menyatakan respons apa yang harus dibuat untuk stimuli. Dia menyarankan
lingkungan belajar yang akan memunculkan respons yang diinginkan bersama dengan
adanya stimuli yang akan diletakkan padanya. Jadi motivasi dianggap tidak
terlalu penting, yang diperlukan adalah siswa mesti merespons dengan tepat
dalam kehadiran stimuli tertentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar