PROSES KOGNITIF
MATEMATIKA
Perkembangan kognitif manusia
yang merupakan proses psikologis di dalamnya melibatkan proses-proses
memperoleh, menyusun dan menggunakan pengetahuan, serta kegiatan-kegiatan
mental; seperti: mengingat, berpikir, menimbang, mengamati, mengingat,
menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan memecahkan persoalan yang
berlangsung melalui interaksi dengan lingkungan.
Jean Piaget yang merupakan
pelopor psikologi kognitif tidak sependapat dengan pandangan yang mengatakan
bahwa kecerdasan adalah merupakan faktor bawaan, yang berarti manusia tinggal
menerima perbedaan-perbedaan yang ada, karena pandangan seperti ini akan
membawa pengaruh kurang positif atau bahkan negatif terhadap proses pendidikan
dan upaya pengembangan kemampuan berpikir anak.
Berdasarkan penelitiannya yang
dilakukan secara serius dengan cara mengobservasi secara partisipan dalam
jangka waktu lama, Jean Piaget mendapati bahwa anak pada umur tertentu
mengalami kesulitan untuk memahami hal-hal yang sebenarnya sederhana. Misalnya:
seorang anak kecil ternyata mengalami kesulitan untuk memahami mengapa air yang
banyaknya sama apabila dituangkan dari gelas pendek besar ke gelas tinggi kecil
ternyata hasilnya sama dan tidak tumpah.
A. Pengertian Kognitif
Istilah kognitif seringkali
dikenal dengan istilah intelek. Intelek berasal dari bahasa Inggris “intellect” yang menurut Chaplin (1981)
diartikan sebagai:
1.
Proses kognitif, proses berpikir,
daya menghubungkan, kemampuan menilai, dan kemampuan mempertimbangkan.
2. Kemampuan
mental atau inteligensi
Menurut Mahfudin Shalahudin
(1989) dinyatakan bahwa “intelek” adalah akal budi atau inteligensi yang
berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan-hubungan dari proses berpikir.
Selanjutnya dikatakan bahwa orang yang intelligent
adalah orang yang dapat menyelesaikan persoalan dalam tempo yang lebih singkat,
memahami masalahnya lebih cepat dan cermat, serta mampu bertindak cepat.
Istilah inteligensi, semula
berasal dari bahasa Latin “intelligere”
yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain. Menurut William
Stern, salah seorang pelopor dalam penelitian inteligensi, mengatakan bahwa
inteligensi adalah kemampuan untuk menggunakan secara tepat segenap alat-alat
bantu dan pikiran guna menyesuaikan diri terhadap tuntutan-tuntutan baru.
Sedangkan Leis Hedison Terman berpendapat bahwa intelegensi adalah kesanggupan
untuk belajar secara abstrak (Patty F, 1982). Di sini Terman membedakan antara “concrete ability” yaitu kemampuan yang
berhubungan dengan hal-hal yang bersifat
abstrak. Orang dikatakan inteligen menurut Terman jika orang tersebut mampu
berpikir abstrak dengan baik.
Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa pengertian intelek tidak berbeda dengan pengertian
inteligensi yang memiliki arti kemampuan untuk melakukan abstraksi serta
berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap
situasi baru.
Jean Piaget mendefinisikan “intellect” ialah akal budi berdasarkan
aspek-aspek kognitifnya, khususnya proses-proses berpikir yang lebih tinggi
(Bybee dan Sund, 1982). Sedangkan “intelligence”
atau intelegensi menurut Jean Piaget diartikan sama dengan “kecerdasan” yaitu
seluruh kemampuan berpikir dan bertindak secara adaptif termasuk
kemampuan-kemampuan mental yang kompleks seperti berpikir, mempertimbangkan,
menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan menyelesaikan persoalan-persoalan.
Jean Piaget mengatakan bahwa inteligensi adalah seluruh kemungkinan koordinasi
yang memberi struktur kepada tingkah laku suatu organisme sebagai
adaptasi mental terhadap situasi baru. Dalam arti sempit, intelegensi
seringkali diartikan sebagai intelegensi operasional, termasuk pula
tahapan-tahapan yang sejak dari periode sensomotoris sampai dengan operasional
formal.
B. Tahapan Perkembangan Kognitif
Jean
Piaget membagi perkembangan kognitif menjadi empat tahapan, yaitu :
1. Tahap
Sensori-Motoris
Tahap ini dialami pada usia 0-2
tahun. Pada tahap ini anak berada dalam suatu masa pertumbuhan yang ditandai
oleh kecenderungan-kecenderungan sensori-motoris yang amat jelas. Segala
perbuatan merupakan perwujudan dari proses pematangan aspek sensori-motoris
tersebut. Menurut Piaget, pada tahap ini interaksi anak dengan lingkungannya,
termasuk orang tuanya, terutama dilakukan melalui perasaan dan otot-ototnya.
Interaksi ini terutama diarahkan oleh sensasi-sensasi dari lingkungannya. Dalam
melakukan interaksi dengan lingkungannya, termasuk juga dengan orang tuanya,
anak mengembangkan kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan,
melakukan berbagai gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengkoordinasikan
tindakan-tindakannya.
2. Tahap
Praoperasional
Tahap ini berlangsung pada usia
2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya
memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh suasana intuitif; dalam arti
semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tapi oleh unsur
perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang
bermakna, dan lingkungan sekitarnya.
Pada tahap ini, menurut Piaget,
anak sangat bersifat egosentris sehingga seringkali mengalami masalah dalam
berinteraksi dengan lingkungannya, termasuk dengan orang tuanya. Dalam
berinteraksi dengan orang lain, anak cenderung sulit untuk dapat memahami
pandangan-pandangannya sendiri. Dalam berinteraksi dengan lingkungannya, ia
masih sulit untuk membaca kesempatan atau kemungkinan-kemungkinan karena
masih punya anggapan bahwa hanya ada satu kebenaran atau peristiwa dalam setiap
situasi.
Pada tahap ini anak tidak hanya
ditentukan oleh pengamatan inderawi saja, tetapi juga pada intuisi. Anak mampu
menyimpan kata-kata serta menggunakannya, terutama yang berhubungan erat dengan
kebutuhan mereka. Pada masa ini anak siap untuk belajar bahasa, membaca, atau
menyanyi. Menggunakan bahasa yang benar untuk berbicara pada anak akan
mempunyai akibat sangat baik pada perkembangan bahasa mereka. Cara belajar yang
memegang peran pada tahap ini ialah intuisi. Intuisi membebaskan mereka dan
berbicara semaunya tanpa menghiraukan pengalaman konkrit dan paksaan dari luar.
Sering kita lihat anak berbicara sendiri dengan benda-benda yang ada di
sekitarnya, misalnya: berbicara dengan pohon, anjing, kucing dan sebagainya
yang menurut mereka benda-benda tersebut dapat mendengar dan berbicara.
Peristiwa semacam ini sangat baik untuk melatih diri anak menggunakan kekayaan
bahasanya. Piaget menyebut tahap ini sebagai “collective monolog”, pembicara yang egosentris dan sedikit
berhubungan dengan orang lain.
3. Tahap
Operasional Konkrit
Tahap operasional konkrit ini
ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut:
a.
Segala sesuatu dipahami oleh
individu sebagaimana yang tampak saja atau sebagaimana kenyataan yang mereka
alami.
b.
Cara berpikir individu belum
menangkap yang abstark meskipun cara berpikirnya sudah nampak sistematis dan
logis.
c.
Dalam memahami konsep, individu
sangat terikat kepada proses mengalami sendiri. Artinya, individu akan mudah
memahami konsep kalau pengertian konsep itu dapat diamati atau individu itu
melakukan sesuatu yang berkaitan dengan konsep tersebut.
4. Karakteristik Tahap Operasional Formal
Tahap operasional formal ini ditandai dengan
karakteristik menonjol sebagai berikut:
a.
Individu dapat mencapai logika
dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi.
b. Individu
mulai mampu berpikir logis dengan obyek-obyek yang abstrak.
c.
Individu mulai mampu memecahkan
persoalan-persoalan yang bersifat hipotesis.
d.
Individu bahkan mulai mampu
membuat prakiraan (forecasting) di
masa depan.
e.
Individu mulai mampu untuk
mengintrospeksi dir sendiri sehingga kesadaran diri sendiri dapat berkembang
dengan baik.
f.
Individu mulai mampu membayangkan
peranan-peranan yang akan diperankan sebagai orang dewasa.
g.
Individu mulai mampu untuk
menyadari diri, mempertahankan kepentingan masyarakat di lingkungannya, dan
kepentingan seseorang dalam masyarakat tersebut.
E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Kognitif Subjek Didik
Mengenai faktor yang mempengaruhi
perkembangan kognitif individu ini terjadi perbedaan pendapat di antara para
ahli psikologi. Kelompok psikometrika radikal berpendapat bahwa perkembangan
intelektual individu itu sekitar 90% ditentukan oleh faktor heriditas,
sedangkan pengaruh lingkungan, termasuk di dalamnya pendidikan, hanya memberikan
kontribusi sekitar 10% saja. Kelompok ini memberikan bukti bahwa individu yang
memiliki heriditas intelektual unggul, maka akan sangat mudah pengembangannya
meskipun hanya dengan intervensi lingkungan secara tidak maksimal. Sebaliknya,
individu yang memiliki heriditas intelektual rendah maka intervensi lingkungan
seringkali mengalami kesulitas meskipun sudah dilakukan secara maksimal.
Kelompok penganut pedagogis
radikal amat yakin bahwa intervensi lingkungan, termasuk pendidikan, justru
memiliki andil sekitar 80-85%, sedangkan heriditas hanya memberikan kontribusi
15-20% terhadap perkembangan intelektual individu. Syaratnya adalah memberikan
kesempatan rentang waktu yang cukup bagi individu untuk mengembangkan
intelektualnya secara maksimal.
Dengan tanpa mempertentangkan
kedua kelompok radikal itu, maka perkembangan kognitif sebenarnya dipengaruhi
oleh dua faktor utama yaitu heriditas dan lingkungan. Pengaruh kedua faktor itu
pada kenyataannya tidak terpisah secara sendiri-sendiri melainkan seringkali
merupakan resultante dari interaksi keduanya. Pengaruh faktor heriditas dan
lingkungan terhadap perkembangan kognitif itu dapat dijelaskan berikut ini.
1.
Faktor heriditas. Semenjak dalam kandungan anak
telah memiliki sifat-sifat yang
menentukan daya kerja kognitifnya. Secara potensial anak telah membawa
kemungkinan, apakah akan memiliki kemampuan berpikir normal, di atas normal,
atau di bawah normal. Namun potensi ini tidak akan berkembang atau terwujud
secara optimal apabila lingkungan tidak memberi kesempatan untuk berkembang.
Oleh karenanya, peranan lingkungan juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan
intelektual anak.
2.
Faktor lingkungan. Ada unsur lingkungan yang
sangat penting peranannya dalam
mempengaruhi perkembangan kognitif anak, yaitu keluarga dan sekolah.
a.
Keluarga. Intervensi yang paling penting
dilakukan oleh keluarga atau orang
tua adalah memberikan pengalaman kepada anak dalam berbagai bidang kehidupan,
sehingga anak memiliki informasi yang banyak yang merupakan alat bagi anak
untuk berpikir. Cara-cara yang digunakan misalnya memberi kesempatan kepada
anak untuk merealisasikan ide-idenya, menghargai ide-ide tersebut, memuaskan
dorongan ingin tahu anak dengan cara menyediakan bacaan, alat-alat
keterampilan, dan alat-alat yang dapat mengembangkan daya kreativitas anak.
Pemberian kesempatan atau pengalaman tersebut sudah barang tentu menuntut
perhatian orang tua.
b.
Sekolah. Sekolah adalah lembaga formal
yang diberi tanggung jawab untuk meningkatkan
perkembangan anak; termasuk perkembangan intelek anak.
Dalam konteks ini, guru hendaknya menyadari betul
bahwa perkembangan kognitif anak terletak ditangannya. Beberapa cara yang dapat
dilakukan guru diantaranya ialah:
1)
Menciptakan interaksi atau
hubungan yang akrab dengan peserta didik. Dengan hubungan yang akrab tersebut,
secara psikologis peserta didik akan merasa aman sehingga segala masalah yang
dialaminya secara bebas dapat dikonsumsikan dengan guru mereka.
2)
Memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk berdialog dengan orang-orang yang ahli dan berpengalaman
dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
3)
Membawa para peserta didik ke
obyek-obyek tertentu seperti obyek budaya, ilmu pengetahuan, dan sejenisnya
sangat menunjang perkembangan inteletual para peserta didik.
4)
Menjaga dan meningkatkan
pertumbuhan fisik anak, baik melalui kegiatan olah raga maupun menyediakan gizi
yang cukup sangat penting bagi perkembangan intelek peserta didik. Sebab jika
peserta didik terganggu secara fisik perkembangan kognitifnya akan terganggu
juga.
5)
Meningkatkan kemampuan berbahasa
peserta didik, baik melalui media cetak maupun menyediakan situasi yang
memungkinkan para peserta didik berpendapat atau mengemukakan ide-idenya.
F.
Perbedaan
Individual dalam Perkembangan Kognitif
Secara heriditas individu telah
memiliki potensi-potensi yang dapat menyebabkan perbedaan dalam perkembangan
kognitif mereka. potensi tersebut berkembang atau tidak, tergantung pada
lingkungan. Ini berarti bahwa apakah anak akan menjadi memiliki kemampuan
berpikir normal, di atas normal, atau di bawah normal juga banyak dipengaruhi
lingkungan.
Perbedaan individu dalam
perkembangan kognitif menunjuk kepada perbedaan dalam kemampuan dan kecepatan
belajar. Perbedaan-perbedaan individual peserta didik akan tercermin dalam
sifat-sifat atau ciri-ciri mereka baik dalam kemampuan, keterampilan, maupun sikap dan
kebiasaan belajar, kualitas proses dan hasil belajar, baik dalam ranah
kognitif, efektif dan psikomotor. Perbedaan intelektual anak ini akan tampak
sekali jika diamati dalam proses belajar-mengajar di dalam kelas. Ada peserta
didik yang cepat, ada yang sedang, dan ada pula yang lambat dalam penguasan
materi pelajaran.
G. Proses Pembelajaran untuk Membantu Perkembangan
Kognitif Subjek
Didik
Menurut Conny Semiawan (1984)
penciptaan kondisi lingkungan yang kondusif bagi pengembangan kemampuan
inteletual anak yang di dalamnya menyangkut keamanan psikologis dan kebebasan
psikologis merupakan faktor yang amat penting.
Kondisi psikologis yang perlu
diciptakan agar subjek didik merasa aman secara psikologis sehingga mampu
mengembangkan kemampuan kognitifnya adalah:
1.
Pendidik menerima subjek didik
secara postif sebagaimana adanya tanpa syarat (unconditional positive regard). Artinya, apapun adanya subjek
didik dengan segala kekuatan dan kelemahannya
harus diterima dengan baik serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada
dasarnya setiap subjek didik memiliki kemampuan kognitif yang dapat
dikembangkan secara maksimal.
2.
Pendidik menciptakan suasana
dimana subjek didik tidak merasa terlalu dinilai oleh orang lain. Terlalu
memberikan penilaian terhadap subjek didik dapat dirasakan sebagai ancaman
sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri. Memang kenyataannya
pemberian penilaian tidak dapat dihindarkan dalam situasi sekolah, tetapi paling
tidak harus diupayakan agar penilaian tidak bersifat mencemaskan bagi subjek
didik melainkan menjadi sarana yang dapat mengembangkan sikap kompetitif secara
sehat.
3.
Pendidik harus bisa berempati.
Artinya, dapat memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku subjek didik; dapat
menempatkan diri dalam situasi subjek didik; serta melihat sesuatu dari sudut
pandang mereka. dalam suasana seperti ini, subjek didik akan merasa aman untuk mengembangkan
dan mengemukakan pemikirannya atau ide-idenya.
4.
Penting bagi pendidik untuk
mengetahui isi dan ciri-ciri dari setiap tahap perkembangan kognitif peserta
didiknya sehingga dapat mengambil keputusan tindakan edukatif yang tepat
sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang memahami benar-benar pengalaman
belajar yang diterimanya. Mencocokkan sistem pembelajaran dengan kebutuhan
peserta didik merupakan cara yang bagus untuk pengembangan intelektual peserta
didik.
5.
Model pembelajaran yang aktif
adalah tidak menunggu sampai peserta didik siap sendiri, tetapi guru menciptakan
lingkungan belajar sedemikian rupa sehingga dapat memberi kemungkinan maksimal
pada subjek didik untuk berinteraksi edukatif sehingga mendorong percepatan
perkembangan kognitifnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar