DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
A.
Pengertian
Penilaian Autentik
Penilaian menurut
Linch (1996), merupakan usaha yang dilakukan secara sistematis dengan tujuan
untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sumber untuk membuat suatu pertimbangan dan keputusan. Sedangkan
Brown (2004) berpendapat bahwa penilaian sebagai proses kegiatan pengumpulan
kemudian dilakukan pengolahan informasi yang digunakan untuk mengukur
pencapaian hasil dari belajar peserta didik.
Penilaian autentik (authentic
assesment) menurut (Pusat Kurikulum, 2009) merupakan proses serangkaian
kegiatan pengumpulan data , pelaporan informasi yang menjelaskan perolehan
hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip - prinsip penilaian, pelaksanaan
berkelanjutan, bukti-bukti yang nyata atau autentik, akurat, dan konsisten
sebagai akuntabilitas publik. Nurhadi (Hendriana dan Utari, 2014) memaparkan
penilaian autentik merupakan kegiatan penilaian dari hasil pencapaian kinerja
siswa yang dilakukan melalui berbagai teknik atau strategi, di mana siswa mampu
menyampaikan kembali, melakukan membuktikan, menunjukkan secara tepat, sebagai
cerminan bahwa tujuan pembelajaran sudah tercapai.
Dari paparan di atas penilaian autentik
diuraikan sebagai penilaian dari perkembangan sisa, karena berpusat pada
perkembangan kemampuan dari belajar siswa, untuk belajar bagaimana belajar
tentang subjek. Asesmen autentik harus dapat menguraikan dari gambaran sikap,
keterampilan, dan pengetahuan baik yang sudah maupun belum dimiliki oleh
peserta didik, bagaimana mereka mampu mengaplikasikan pengetahuannya, dalam
menyelesaikan pemecahaan masalahan matematis atau kehidupan sehari-hari. Atas
dasar itu, guru dapat melihat dan menganalisis kira-kira materi apa saja yang
sudah layak untuk dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus
dilakukan.
Karakter penilaian pada kegiatan penilaian
autentik tidak hanya berorientasi pada karakteristik yang dimunculkan siswa,
tetapi mencakup karakteristik metode pembelajaran, kurikulum yang sedang
digunakan, fasilitas dan administrasi sekolah. Para siswa tidak hanya
mengerjakan atau melakukan kegiatan sesuai dengan instruksi guru, tetapi dapat
pula menunjukkan perilaku tertentu yang diinginkan sesuai rumusan tujuan
pembelajaran, tetapi mampu mengerjakan sesuatu yang terkait dengan aplikasi
pada konteks kehidupan nyata. Penilaian autentik tidak hanya terkait dengan
produk atau hasil suatu proses kegiatan pembelajaran, tetapi mencakup pada
semua proses kegiatan belajar mengajar.
B.
Prinsip dan Tujuan Penilaian Autentik
Prinsip
yang digunakan dalam penilaian autentik (Hendriana dan Soemarmo, 2014) meliputi
beberapa hal, diantaranya sebagai berikut:
1.
Mengidentifiksi apa yang telah diketahui dan dipahami oleh siswa.
2.
Menggali kembali kemampuan siswa dalam berpikir matematis.
3.
Harus bersifat praktis.
4.
Proses penilaian tidak dapat terpisahkan dari proses pembelajaran.
5.
Penilain harus mendeskripsikan masalah nyata.
6. Penilaian harus menggunakan berbagai
ukuran, metode dan kriteria yang sesuai dengan
ciri khas dan esensi pengalaman belajar siswa.
7.
Penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan
pembelajaran, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Penilaian
autentik tidak dapat dipergunakan untuk membuat peringkat pada penilaian
tradisional, akan tetapi memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Untuk
mengevaluasi kemampuan siswa secara keseluruhan
2. Untuk
mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh siswa selama proses kegiatan pembelajaran.
3. Mendorong
siswa untuk belajar bagaimana menerapkan keterampilan yang mereka miliki ke dalam tugastugas dari guru
mengaplikasikannya dalam aktivitas atau kegiatan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Memberikan
gambaran dari keterampilan analitis siswa, siswa mampu untuk mempelajari suatu
topik, kreativitas, kolaborasi antara menulis dan ekspresi lisan (verbal).
5. Siswa
diharapkan mampu menunjukkan pengetahuan, keterampilan atau kompetensi yang
sudah diperoleh.
6. Merencanaan
penilaian siswa sesuai dengan tujuan kemampuan yang akan dicapai yang
didasarkan pada prinsipprinsip penilaian.
7. Melaksanaan
penilaian siswa secara profesional, memiliki sifat keterbuka, edukatif,
efektif, efisien, dan sesuai dengan konteks sosial serta budaya masyarakat
sekitar.
8. Melaporan
hasil penilaian peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informatif
Pada
pelaksanakan kegiatan pembelajaran secara autentik, seorang guru harus memenuhi
kriteria yaitu sebagai berikut,
1. Mengetahui
bagaimana cara menilai, klebihan dan kekurangan siswa serta mampu mendesain
pembelajaran sesuai materi dan karakteristik siswa.
2. Mengetahui
teknik membimbing siswa untuk mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan siswa
sebelumnya melalui pertanyaan yang berupa stimulus dan menyediakan sumberdaya
bagi siswa dalam rangka mengkontruksi pengetahuan.
3. Melakukan proses pendampingan pada saat kegiatan
pembelajaran, melihat informasi kemajuan pemahaman siswa.
4. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar
peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari luar lingkungan
sekolah.
Data hasil penilain
autentik dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti seperti menentukan
kelayakan pelaksanaan dari kurikulum dan pembelajaran. Data dapat dianalisis
dengan metode kualitatif, maupun kuantitatif. Analisis kualitatif dijelaskan
secara narasi atau deskripsi berdasarkan pada hasil capaian belajar siswa,
misalnya, mengenai kelebihan dan kekurangan, motivasi, keberanian berpendapat,
yang merupakan gambaran dari kemampuan afektif siswa. Analisis kuantitatif
menerapkan rubrik skor atau daftar cek (checklist) untuk menilai tanggapan
siswa terhadap kriteria dari empat atau lebih tingkat kemahiran (misalnya:
sangat mahir, mahir, sebagian mahir, dan tidak mahir). Selain daftar cek,
analisis kuantitatf dapat menentukan kemampuan siswa dari perolehan hasil tes
yang berupa nilai (angka) baik secara normatif maupun patokan (PAN atau PAP).
C.
Jenis
Penilaian Autentik
Menurut (Hendriana dan
Soemarmo, 2014), beberapa jenis asesmen autentik disajikan berikut ini.
1. Penilaian Berbasis
Kinerja Asesmen autentik.
Cara
penilaian berbasis kinerja adalah daftar cek (checklist), untuk mengetahui
indicator yang muncul dalam suatu peristiwa, (b) Catatan anekdot, catatan deskripsi
guru selama kegiatan pembelajaran, (c) Skala penilaian (rating scale), dan (d)
memori atau ingatan (memory approach). Guru mengamati ssiswa pada saat
keegiatan beajar baik di kelas atau di luar kelas.
Untuk menunjukkan
kinerja yang nyata beberapa jenis kompetensi tertentu siswa perlu adanya
menilai tingkat ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja, memberikan
kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh siswa untuk menyelesaikan
tugas. Fokus utama pada indikator penting yang akan dinilai. Memperhatikan
urutan dan sistematika dari kemampuan atau keterampilan siswa yang akan
diobservasi.
Pengamatan
atas kinerja siswa perlu dilakukan dalam berbagai hal untuk menentukan tahapan
pada pencapaian kemampuan siswa pada indikator khusus. Penilaian keterampilan
verbal siswa, dari aspek keterampilan presentasi, guru dapat melihat pada saat
kegiatan berdiskusi, memaparkan, menjelaskan, dan wawancara. Hasil pengamatan
ini diperoleh keutuhan mengenai keterampilan verbal dimaksud. Instrumen,
seperti penilaian sikap, observasi perilaku, pertanyaan langsung, atau
pertanyaan pribadi digunakan untuk mengamati kinerja siswa.
2. Penilaian diri
Penilaian
diri (self assessment) merupakan salah satu penilaian kinerja. Siswa menilai
dirinya sendiri berkaitan dengan status, tahapan mencapai suatu kompetensi yang
dipelajari. Cara penilaian seperti ini untuk mengukur beberapa kompetensi,
yaitu (a) penilaian ranah sikap, penilaian ranah keterampilan, dan (c)
penilaian ranah pengetahuan.
Teknik
penilaian ini dapat memberikan manfaat positif bagi siswa, diantaranya dapat
menumbuhkan rasa percaya diri, menyadari kelebihan dan
kekurangan dirinya, mendorong, membiasakan, dan
melatih siswa berperilaku jujur, menumbuhkan semangat untuk maju secara
personal, sehingga dapat bersaing secara sehat dengan siswa yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar